Minggu, 01 Oktober 2017

Dasar!



Bisikan sepelan desir angin
Terasa namun samar
Ajakan selembut gelombang ombak
Terlihat namun mendayu
Tanpa busana hilir mudik kian kesana kadang kemari
Sakit kepala, nyeri di hati
Mata pun picik jadinya
Bagaimana keindahan yang terhampar
Tak menjadi tanda dalam lamunan
Tak menjadi nasehat dalam fikiran
Mengapa yang terlihat manakjubkan
Tak menjadi berkah dalam renungan
Bukan Pencipta salah mencipta
Tataran luas elok, hijau menarik, lagi mempesona
Bukan Pencipta salah mencipta
Dalam bentuk sebaik-baik makhluk bisa mendengar mampu melihat
Manusia saja yang kurang akal, malas berpikir atau menolak untuk terpikir
Kerap tak acuh, tak sadar diri
Bagus D Kesumo, Tabiat.

Rabu, 20 September 2017

Kehidupan



Bukankah sejatinya seorang muslim mengenal kehidupan di akhirat sana, bukan di dunia. Bahwa yang namanya hidup ada di akhirat, dunia sekarang ini ialah perjalanan untuk menyonsongnya. Bukan berarti muslim tidak butuh dunia. Hanya saja sepantasnya seorang muslim mengerti nilai kualitas dunia, ambil sebutuhnya. Sekedar sebuah lahan tanam untuk diambil pundi-pundi pahalanya, lalu pulang membawa bekal ke kampung halaman demi berjumpa dengan Dzat yang paling ingin dijumpai.

Terpaksa ataupun rela hati.

Kamis, 07 September 2017

Nyata=Abstrak?

Apakah benar antara abstrak dan nyata adalah dua hal yang berbeda. Maksudku tidakkah wajah rupawan diri kita yang nyata adalah rangkaian dari atom-atom yang abstrak. Biru dan senja langit ialah segerombolan panjang gelombang tertentu. Suara kita yang jelas kedengaran juga merupakan frekuensi variatif yang umumnya diatas 20 Hz.
Jadi sebenarnya mana yang benar?. Apakah hal yang nyata adalah kumpulan dari yang abstrak. Ataukah sesuatu yang abstrak adalah bagian dari yang nyata. Atau sesuatu yang abstrak dan sesuatu yang nyata bersinergi dalam suatu mekanisme dan sistem yang lain. Atau bisa jadi pengertian abstrak dan nyata yang memang salah. Bahwa yang terlihat tidak selalu nyata dan yang tidak tampak tidak selalu disebut abstrak.
Bagus D. Kesumo, 23.40, 1 sep 2017. Enigma.

Minggu, 27 Agustus 2017

Pencarian




Mungkin gundah gulanaku tercipta akibat pencarian ke arah yang salah. Menapak sehasta demi sehasta di penjuru yang tidak tepat. Hanya terkungkung sekedar mencari di tempat hasil ledakan kosmik ini. 

Aku hampir amnesia bahwa tempat yang ku pijak saat ini hanyalah sebuah serpihan reruntuhan langit. Tidak akan kutemukan pengisi hati di sini. Sebab desain hati memang tidak diserasikan dengan dunia. Bahwa pelengkap sesungguhnya ada di dekat nun disana, di kampung halaman yang berada di balik kematian.


#Skizofrenia akut

Jumat, 25 Agustus 2017

Riwayat Sebatang Pohon

Benih yang ditanam kini disiram hujan

Tanah pun ikut serta menyokong sembari menyuplai

Waktu membantu mendorong
Jadi kokoh batangnya

Rantingnya bercabang benjuntai-juntai

Dedaunannya rimbun menandakan kesuburan

Waktu mendorong dan terus mendorong

Tampaklah di depan pohon yang besar, tinggi nan garang

Buahnya ranum, bawahnya rindang

Naungan para burung mendirikan sarang

Pondok untuk bercuit ria

Kemudian waktu mendorong dan terus mendorong

Lalu angin menggugurkan dedaunannya

Musim dingin mematahkan rantingnya satu per satu 

Namun waktu tetap mendorong dan terus mendorong

Batang mulai rapuh diterpa hujan, tersiram panas

Jamur dan benalu yang hinggap berlomba-lomba menjarah semua sediaan

Tetapi waktu pun masih mendorong dan terus mendorong

“Tidakkah sebaiknya engkau hentikan daku di masa ini wahai waktu…?”,Tanya pohon

“Telah berkurang kokohku”
“Telah hilang rimbunku”

Namun waktu diam seribu bahasa, dan tetap asik mendorong dan terus mendorong

Sampai akar tak mampu menahan beban dorongan

Kulitnya rontok, terkelupas berjatuhan

Tercerabut….., tumbang……, roboh

Batangnya lapuk kemudian kering, lalu musnah

Yang dulunya pohon perkasa
Sekarang sekedar kompos belaka

Jika beruntung tanah akan mengangkutnya
Mengurainya jadi suplai untuk benih dan pohon di sekitarnya

Ataupun paling tidak 
Cacing, serangga dan belatung bisa memanfaatkannya jadi asupan vitamin dan gizi serta rumahnya.

Sebab yang terlanjur lahir
Tinggal masalah waktu kapan berakhir



Bagus D. Kesumo, 25 Agustus 2017, Tatkala angin menjalankan tugasnya.

Rumput Sendiri

Perlahan aku mulai mengerti tentang kehidupan. Bahwa setiap manusia adalah suatu proyeksi kehambaan. Dimana pada akhirnya setiap jiwa akan pergi menjumpai Sang Maha Raja dalam keadaan seorang hamba. Baik terpaksa ataupun rela hati.  Waktu akan terus terbuang jika engkau sahabat terlalu lama menatap manisnya hidup tetangga. Rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau. Tapi bukan sahabat, hijaunya itu disebabkan karena mata kita yang mungkin buta warna. Atau bisa jadi rumput tetangga adalah rumput sintetis, makanya tampak lebih hijau.
Namun hakikatnya hidup manusia adalah indah seluruhnya. Setiap rangkaiannya mengandung hikmah yang teramat elok mempesona. Kita hanya perlu bersabar sembari mencari sudut pandang yang paling tepat untuk mengungkap hikmah tersebut.

Allah adalah Zat yang tidak pernah tidur, Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Rahmat-Nya mendahului Azab-Nya. Cinta-Nya mendahului murka-Nya. Tidak perlu kita irikan dengan kehidupan orang lain yang tampak menarik  jika kita tatap dari posisi kita. Tapi bisa jadi belum menyenangkan jika kita menjalaninya.
Hidupmu adalah rangkaian peristiwa terindah yang telah Allah rangkaikan khusus untukmu. Bukan untuk agar kita menikmati setiap inci hidup kita, bukan untuk agar kita mendapatkan segala yang kita pinta, bukan juga untuk agar kita meraup setiap harap kita. Tapi lebih penting lagi. Agar kita menjadi hamba-Nya saja.

Allah menempatkan kita dalam keterbatasan. Dan dalam keterbasan itu selalu ada pelajaran implisit di dalamnya. Tahu kah kau sobat, apa salah satu hal termahal di dunia ini?. Bukan emas, bukan intan, bukan pula yang serupa Megan Fox. Tapi ialah rasa Qana’ah. Rasa berkecukupan akan segala sesuatu. Kita merasa cukup dan bersyukur akan yang ada pada diri kita.

Sesekali lihatlah tangan kita, sudikah engkau jika tanganmu ditukar dengan sebongkah emas 24 karat. Atau kakimu digadai demi intan permata. Atau daya lihat mata kita dibeli dengan istana nan megah. Itu berarti nilai diri kita lebih mahal dari itu semua. Bersyukurlah, niscaya kita akan menjadi orang yang paling kaya.


Bagus D. Kesumo, 25 Agustus 2017, Insomnia.