Benih yang ditanam kini disiram hujan
Tanah pun ikut serta menyokong sembari menyuplai
Waktu membantu mendorong
Jadi kokoh batangnya
Rantingnya bercabang benjuntai-juntai
Dedaunannya rimbun menandakan kesuburan
Waktu mendorong dan terus mendorong
Tampaklah di depan pohon yang besar, tinggi nan garang
Buahnya ranum, bawahnya rindang
Naungan para burung mendirikan sarang
Pondok untuk bercuit ria
Kemudian waktu mendorong dan terus mendorong
Lalu angin menggugurkan dedaunannya
Musim dingin mematahkan rantingnya satu per satu
Namun waktu tetap mendorong dan terus mendorong
Batang mulai rapuh diterpa hujan, tersiram panas
Jamur dan benalu yang hinggap berlomba-lomba menjarah semua sediaan
Tetapi waktu pun masih mendorong dan terus mendorong
“Tidakkah sebaiknya engkau hentikan daku di masa ini wahai waktu…?”,Tanya pohon
“Telah berkurang kokohku”
“Telah hilang rimbunku”
Namun waktu diam seribu bahasa, dan tetap asik mendorong dan terus mendorong
Sampai akar tak mampu menahan beban dorongan
Kulitnya rontok, terkelupas berjatuhan
Tercerabut….., tumbang……, roboh
Batangnya lapuk kemudian kering, lalu musnah
Yang dulunya pohon perkasa
Sekarang sekedar kompos belaka
Jika beruntung tanah akan mengangkutnya
Mengurainya jadi suplai untuk benih dan pohon di sekitarnya
Ataupun paling tidak
Cacing, serangga dan belatung bisa memanfaatkannya jadi asupan vitamin dan gizi serta rumahnya.
Sebab yang terlanjur lahir
Tinggal masalah waktu kapan berakhir
Bagus D. Kesumo, 25 Agustus 2017, Tatkala angin menjalankan tugasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar