Jumat, 14 Juli 2017

Cinta tak sekanak-kanak itu

Kemarin temanku bertanya, "Kalau sayang kenapa dilepas, kalau cinta kenapa di tinggal?", ungkapnya penuh penasaran.

Jadi kujawab sederhana, "Cinta tidak sekanak-kanak itu sobat".
Cinta. Kata yang teramat manis menurutku. Tidakkah sejuk ketika mendengarnya. Kebanyakan orang berpikiran bahwa jika kita mencintai seseorang kita harus mati-matian untuk bersamanya, sekuat tenaga memperjuangkannya agar tetap disisi kita apapun yang merintang. Seperti halnya perlambangan kisah cinta penuh sastra romeo yang dengan suka rela menenggak racun demi menyusul juliet sang kekasih tercinta. Tidakkah romantis? Atau mungkin kisah Sang pek yang tanpa pikir panjang menyebur ke liang lahat demi setanah dengan tambatan hatinya. So sweet kah?
Bagi mereka tentulah cinta adalah seurat penuh kebersamaan. Jika tidak berdamping dengan kekasih hati buat apa hidup?. Tanpanya yang mengisi jiwa mana bisa aku bahagia. Begitulah mungkin terucap.

"Wahai kematian datanglah cepat kemari! Hisap dan dekap tubuhku yang penuh cinta ini, karena tidak ada sesuatu di hadapan matahari yang mampu memulihkan kesedihanku..."
(William Shakespeare, Romeo Juliet)

Kisah-kisah serupa ini sangat kental menghiasi isi kepala kita kebanyakan generasi muda. Maka yang umum didapati saat cinta menyergap paksa bilik-bilik hati adalah segera mengambil tindakan paling efisien untuk mampu bersama dan bahagia. Sialnya keputusan yang sering diambil sering kali salah. Dikarenakan sarana dan prasana yang tidak memadai. Semisalnya saja keungan yang terkena kanker(kantong kering), ditambah mental yang masih mentah untuk mengikat jalinan sekasih, seberkah, sepenanggungan, plus terjangkit penyakit ayan akut saat diajak berbicara dengan orang tua sang kekasih, atau saraf motorik yang terkena macet disebababkan kurangnya bahan bakar ilmu. Maka jalan pintas yang dianggap pantas ialah pacaran, begitulah tukas salah seorang teman.

Jika yang berbicara romeo atau sang pek mungkin aku tidak terlalu ambil pusing, jelas mereka tidak mengerti halal dan haram permasalahannya. Maksudku bagi kita yang percaya akan pertemuan akhirat serta sudah mengikat jantung kita di tali temali islam mempunyai acuan tersendiri dalam mengambil tindakan. Suatu acuan yang terjun bebas dari langit ketujuh lalu perlahan jatuh ke bumi secara berangsur-angsur.

Tentu cinta akan menuntut kebersaman dan kebahagiaan, tapi sobat jangan kau lupa bahwa cinta juga terisi dengan inti komponen yang lain; bimbingan dan perlindungan. Aku sempat mengetahui bahwa Rasullah pernah bersabda:

"Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”  
(HR. Thobroni).

Begitulah janji Allah yang disampaikan melalui lisan makhluk paling terpercaya, Shalallahu 'alahi Wassalam. Ketika kita mencintai seseorang dan beruntungnya lagi si doi pun ternyata mencintai kita maka sewajarnya lah kita dalam memutuskan tindakan berasaskan kalkulasi Qurani. Jika kita mencintai seseorang tidakkah kita takkan pernah rela jiwanya terperihkan, fisiknya terluka meski dengan serpihan duri kecil. Lantas bagaimana jika ternyata dengan menyentuhnya selain dapat memberikan rasa kejut rangsangan yang luar biasa, kita juga menghadiahkan besi-besi panas untuk dipasakkan di tempurung otaknya kelak. Dan bagaimana pula ternyata memeluknya tidak hanya menyerahkan kenyamanan padanya, tapi juga mencampakkannya dalam tungku api yang menggelegak.

"Tapi kan dengan lekat sentuhku, peluk mesraku, atau kecup tentramku dia bahagia!, bukankah cinta itu soal bersama dan membahagiahkan", kilah seseorang.

Kuberi satu analogi sederhana:
Jika kalian memiliki saudara, atau adik yang kalian sayangi lah katakan. Suatu ketika ia datang pada kalian dengan senyum sumringah menggenggam sesuatu pemberian teman terdekatnya. Lalu ia meminta izinmu untuk memakannya. Ternyata setelah kau perhatikan dengan teliti benda itu adalah sabu alias barang haram. Akankah kau mengizinkan adikmu mengunyahnya?

.......

Namun adikmu yang polos tak terkira-kira tetap merengek meminta izinmu bahkan mengancam membencimu seumur hidup jika kau tak melegalisir inginnya. Dia berargumen bahwa teman2nya hampir semua mengkonsumsinya, bahkan menjadi trend di kalangan mereka. Akankah kau tetap menahan lidahnya agar tidak mengecap barang haram tersebut?.

..........

Bukankah karena itu adikmu jadi tidak bahagia? Bukannya karena larangan kita hubungan kita dengan sang adik merenggang.

Lantas bagaimana jika sang adik adalah gambaran kekasihmu yang meminta sentuhan manis dan rangkulan manja. Bagaimana tanggungjawab lidahmu yang melantun kata elegan "Mencintaimu", dan dari perilakumu yang 'katanya' akan membiaskan "Aku akan membahagiakanmu".
Akankah si doi bahagia saat di akhirat kelak ia dicampakkan ke tungku api yang berkobar-kobar, atau dia akan sumringah saat besi panas menyala ditanam di tulang ubunnya?.

Jika kau tetap memenuhi angannya dan mengikuti inginmu sementara sobat kau tahu konsekuensi yang akan menanti, maka sebenarnya siapa yang kau cintai: dirinya atau dirimu sendiri?.
Ada sisi lain dari cinta, bahwa cinta tidak selalu menuntut kebahagiaan dan kebersamaan tapi juga bimbingan dan perlidungan serta pengorbanan. Sebab itu, jika benar kita mencintainya tentu sepatutnya segera kita menghalalkannya. Jika belum mampu tentulah lebih baik melepasnya bebas demi menyelamatkan kita dan dirinya dari mencengkamnya solder panas neraka. Tidakkah jodoh merupakan bagian rezeki,dan rezeki tidak pernah tertukar serta selalu tau dimana pemiliknya. Bahkan ia biasanya merapat disaat yang paling tepat.

Maka ku katakan "Cinta tak sekanak-kanak itu sobat".

Bersama kita belajar dari sebentuk cinta Nabi Ibrahim, saat memencilkan pendampingnya; Siti hajar dan anaknya; Nabi Ismail di padang pasir nan luas.  Berusaha meniru sedewasa cinta para sahabat ketika membebas dekap mesra istrinya demi beranjak ke medan Jihad. Dan senantiasa mencoba seikhlas cinta Rasulullah kapada umatnya..


 Bagus D. Kesumo, 14 Juli 2017, 04.30 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar