Separuh orang yang pernah mencerca atau mengkritik anda itu akan melupakan cercaan mereka, sepertiganya tidak sadar dengan apa yang mereka lontarkan, dan selebihnya tidak akan mengerti apa dan mengapa mereka mencerca anda.
-Dr. 'Aidh Al-Qarni-
Dikala jiwa mulai tersadar akan pentingnya amanah dan tanggungjawab. Mulai mengerti akan harusnya nasehat-menasehati dalam setiap kebaikan dan ketaatan. Mencobalah diri menyampaikan apa yang mampu disampaikan, agar orang sekitar pun merasakan indahnya dalam dekapan iman yang begitu menghangatkan. Agar orang lain juga merasakan betapa manisnya berduaan dengan Allah Azza Wa Jalla. Agar orang lain juga mengetahui keharusan berlari dari panasnya api Neraka. Tapi teryata bukan senyum manis yang menyapa, malah cercaan yang mendera-dera yang di lempar kembali ke arah kita. Sering kali gelisah, perih dan sedih diri dibuatnya. Lalu kerap kali pula digunjing diri, direndahkan, dihujat, di permalukan kehormatan diri.
Biarlah,maafkanlah mereka. Dendam yang tumbuh di hati hanya akan memperkeruh suasa, hanya menambah kesedihan dan miris hati. Doakan saja semoga mereka menerima sebagaimana kita menerima. Namun jika gelombang fitnah yang terlontar tak kunjung henti, terus memapar hati, hingga sulit wadah kesabaran menampungnya. Cukup basuhlah diri dengan berwudhu, lalu dekatkanlah kening kita ke lantai sembari mengadulah kepada Sang Pemilik Takdir. Tak perlu kita selalu membalas setiap kedzaliman yang menyapa. Tiada guna jika memang tak dianjurkan oleh Sang Maha Lembut lagi Maha Mengazab.
Bukankah memang dari awal tak berharap diri akan setiap puji dan acungan jempol. Karena yang terpenting jangan sampai ikhlas lepas terlari, kita jaga ketat dan diikat kuat. Biarpun dengan benci dan hujatan mereka serta tanpa ridho mereka kewajiban kita tetap ada, tidak bertambah dan tidak berkurang, rezeki kita tak tersumbat dan tetap mengalir, hidup kita tetap berlanjut dan tidak berhenti.
Cukuplah diri menadahkan tangan dan berkata:
Bukankah memang dari awal tak berharap diri akan setiap puji dan acungan jempol. Karena yang terpenting jangan sampai ikhlas lepas terlari, kita jaga ketat dan diikat kuat. Biarpun dengan benci dan hujatan mereka serta tanpa ridho mereka kewajiban kita tetap ada, tidak bertambah dan tidak berkurang, rezeki kita tak tersumbat dan tetap mengalir, hidup kita tetap berlanjut dan tidak berhenti.
Cukuplah diri menadahkan tangan dan berkata:
"Alhamdulillah, selamat datang pahala tanpa Riya' tanpa Ujub tanpa Sum'ah"
"Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Al-Fathir:34).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar