Saat terpenjam kedua belah kelopak mataku, malamku menjelmakan khayal. Udara dingin membelai dengan ringkihnya penuh nuansa romansa kerinduan. Saraf motorikku melaju kencang menyisip diantara sela-sela Lobus Temporal Otak, memecah fragmen-fragmen silam, lalu merangkainya kembali menjadi fatamorgana yang modernis namun tak lepas dari gaya klasikal. Mimpi melambung ke awang-awang menembus cakrawala, meninggalkan alam realitas, serta-merta menguak dimensi ruang dan waktu, kemudian bersafar ke dunia penuh kemayaan.
Kudapati aku sedang berdiri diantara puing-puing dataran antah-berantah. Dirinya anggun menungguku melihat teduh dengan senyum serupa apel ranum. Matanya berbinar penuh kemesraan. Kerudung birunya laksana riak ombak di musim timur, tak sungkan menyerap terang purnama yang terjun bebas jatuh menyelubungi dataran antah-berantah itu. Memantulkannya ke embun didedauan dan rerumputan kemudian menyepuhnya menyibak warna perak berkilat-kilat. Sepisah jarak antara diriku dan wajah pesonanya sejauh kesadaran. Tampak begitu jelas, begitu nyata. Seperti terserang Skizofrenia.
*****
Selongsong pelita fajar perlahan menyisir subuh. Menulusuri alam raya sebagai petanda dari Tuannya. Para ruh yang melanglang buana kini diarahkan gema adzan agar kembali ke jasadnya. Agar hendak segera menyeka wajahnya untuk menghadap Sang Ilahi.
Selesai dari penghayatan kerinduan seorang hamba kepada Tuannya. Raut wajahku senduh memikirkan harus kembali lagi pada siklus kehidupan dunia ini. Pikiran sedikit kalut lantaran tadi malam sebercak emosi meracuni bunga tidurku. Merombaknya menjadi khayal yang senantiasa kudambakan. Emosi dan sosok yang seharusnya tidak muncul begitu saja. "Pertemuan". Meski hanya mimpi selayak Fatamorghana namun cukup terlampiaskan akan rinduku.
Tapi mungkin aku salah jika di pagi hari ini bukannya Sang Khaliq yang kurindukan, tapi malah merindukan makhlukNya. Aku harap kecintaanku terhadap makhluk-Nya tidaklah diambang batas berlebih. Dan tidak pula diatasnya.
Tapi benar kata penyair yang aku lupa namanya:
"Saya sama sekali tidak mengerti kerja mimpi. Tapi kadang-kadang ia menghadirkan orang yang kita rindu tepat waktu."
Hati. Bukankah kerinduan diletakkan disana. Apakah benar kerinduan adalah hasil manifestasi kecintaan?.
Tidak ada yang salah dari seseorang yang sedang jatuh cinta. Juga bukan masalah juga jika hati sedang dirundung rindu. Hanya saja terkadang kita dituntut mampu untuk mengontrolnya agar tidak melampaui ambang batas kecintaan sesama makhluk.
Maka dari itu bukan jatuh cintanya yang menyalah, tapi yang sering didapati adalah manifestasi tindakan cinta itu yang salah. Allah tetapkan jalur bercabang untuk para bujang dan dayang yang terjatuh cinta. Cabang yang pertama memuncak ke surga dan yang kedua bermuara ke neraka.
Tindakan manifestasi cinta juga ada ketentuannya, tidak sembarang asal rasa. Allah haramkan zina tapi Allah ganti dengan pernikahan nan indah. Gandeng, rangkul, peluk, kecup hingga cumbu mesra. Dari mulai kegiatan hormonal sampai seksual juga merupakan bentuk cinta. Namun waktu peng-eksekusi-annya sangat menentukan kemana implementasi itu mengarah, apakah mendaki ke surga atau tenggelam di dasar neraka. Keduanya hanya dibatasi hijab kata pendek nan singkat "SAH", lalu para saksi menyahut "SAH,SAH,SAH",dan para penonton akan berkata "Alhamdulillah".
Sebenarnya dalam tulisan ini aku hanya ingin mengatakan: "Aku hanya ingin cintaku dan cintamu (itupun kalo dikau masih cinta, sebab hati siapa yang tahu) diridhoi Allah. Niscaya jika ku mampu kelak, pintu pertama yang akan kusambangi dan ku ketuk adalah pintu rumahmu. Jadi setidaknya jagalah keanggunan dirimu dan biarkan sekali lagi aku untuk pulang, nyenyak dalam kelembutan bisik manismu.
Andrea H mengakabarkan padaku dari Sabari bin Insyafi.
“Segala hal dalam hidup ini terjadi tiga kali, Boi. Pertama lahir, kedua hidup, ketiga mati. Pertama lapar, kedua kenyang, ketiga mati. Pertama jahat, kedua baik, ketiga mati. Pertama benci, kedua cinta, ketiga mati. Jangan lupa mati, Boi.”
"Dan terkhusus untukmu, hal itupun juga terjadi dalam tiga kali. Pertama aku mencintaimu. Kedua aku mencintaimu. Ketiga aku mencintaimu."
Bagus D. Kesumo, 17 Juli 2017, 23.15 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar